Kisah Perjalanan Welly, Bangkit Berdaya Bersama BAZNAS

Kisah Perjalanan Welly, Bangkit Berdaya Bersama BAZNAS

08/06/2026 | Humas BAZNAS RI

Setiap pagi, sebelum bel berbunyi, antrean kecil sudah mulai terbentuk di kantin SMP Negeri 24 Banjarmasin. Para siswa datang dengan tujuan yang sama: mendapatkan dimsum dan sushi buatan Welly Dinyati. Tak jarang, menu favorit itu sudah ludes bahkan sebelum waktu istirahat berakhir.

Di balik kesibukan melayani ratusan siswa setiap hari, tersimpan kisah perjalanan hidup yang penuh keberanian, keteguhan, dan keyakinan.

Lebih dari satu dekade lalu, wanita 45 tahun itu mengambil keputusan besar yang mengubah arah hidupnya. Pada 2012, ia memilih meninggalkan pekerjaannya di dunia perbankan. Keputusan itu bukan tanpa risiko. Selain tuntutan pekerjaan yang menyita banyak waktu, ia juga ingin menata hidup sesuai nilai-nilai yang lebih ia yakini, termasuk menjauh dari praktik riba.

Pilihan tersebut membawanya memasuki fase baru yang penuh tantangan. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Welly harus melewati berbagai proses pencarian hingga akhirnya menemukan peluang yang sesuai dengan dirinya.

Titik terang itu datang pada 2017 ketika ia membuka kantin sekolah. Usaha tersebut berkembang cukup baik dan mulai menjadi sumber penghidupan keluarga. Namun, seperti banyak pelaku usaha mikro lainnya, badai pandemi Covid-19 datang tanpa peringatan.

Saat sekolah ditutup selama lebih dari dua tahun, aktivitas kantin praktis berhenti total. Sumber penghasilan yang selama ini diandalkan mendadak hilang. Welly sempat mencoba bertahan dengan berjualan di pinggir jalan, tetapi pembatasan aktivitas masyarakat membuat upaya tersebut sulit berkembang.

Meski begitu, ia tidak menyerah.

Ketika sekolah kembali dibuka, Welly memulai semuanya dari awal. Dengan kesabaran dan kerja keras, kantin yang sempat mati suri perlahan kembali hidup. Pelanggan datang lagi, penjualan meningkat, dan kepercayaan diri pun tumbuh kembali.

Kini, usahanya tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang. Ia telah mempekerjakan karyawan untuk membantu operasional harian kantin, sehingga memiliki lebih banyak waktu untuk mengembangkan usaha kreatif lainnya.

Di luar kesibukan mengelola kantin, Welly juga dikenal sebagai perajin buket bunga, aksesori, dan berbagai produk handmade. Karyanya banyak dicari pada momen-momen spesial seperti kelulusan sekolah, Hari Guru, hingga acara perpisahan. Produk-produknya bahkan pernah dipasarkan melalui Stand BAZNAS dalam kegiatan Pasar Ramadhan sebagai bagian dari dukungan terhadap usaha binaan.

Bagi Welly, kreativitas dan semangat berusaha harus didukung oleh satu hal penting: modal yang cukup untuk menjaga roda usaha tetap berputar.

Dukungan itu hadir melalui Program BAZNAS Microfinance Desa (BMD). Melalui program pemberdayaan ekonomi tersebut, Welly memperoleh bantuan modal usaha sebesar Rp3 juta yang dimanfaatkan untuk menambah stok bahan baku dan memperlancar operasional kantin. Dampaknya terasa nyata.

Jika sebelumnya omzet harian berkisar antara Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, kini pendapatannya meningkat menjadi sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari sebelum dikurangi biaya operasional dan gaji karyawan.

“Perputaran modal jadi lebih stabil karena barang-barang pokok lebih banyak tersedia,” ujar Welly.

Perkembangan usaha tersebut juga mendapat perhatian dari pendamping program BMD, Muhammad Ikhza, yang secara rutin melakukan monitoring kepada para pelaku usaha binaan. Dalam salah satu kunjungannya, ia menyerahkan apron BAZNAS sebagai bentuk apresiasi sekaligus penyemangat bagi Welly untuk terus mengembangkan usahanya.

Menurut Ikhza, kisah Welly menunjukkan bahwa bantuan modal yang tepat, ketika dipadukan dengan pendampingan yang berkelanjutan, mampu menjadi penggerak pertumbuhan usaha mikro.

“Alhamdulillah, usaha Ibu Welly menunjukkan perkembangan yang baik. Kami berharap usaha ini terus tumbuh sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya,” ujarnya.

Bagi Welly sendiri, pencapaian hari ini bukan semata soal peningkatan omzet atau berkembangnya usaha. Yang lebih penting adalah kesempatan untuk terus berkarya, mandiri, dan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.

Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan apresiasinya atas dukungan yang diterima.

“Terima kasih banyak kepada BAZNAS atas support-nya kepada UMKM kami. Semoga kami bisa terus berkarya dan berdikari lebih besar lagi,” katanya.

Kisah Welly menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari jalan yang mulus. Terkadang, keberanian meninggalkan zona nyaman, keteguhan menghadapi masa sulit, serta dukungan yang tepat pada saat yang dibutuhkan dapat membuka peluang yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Dari dunia perbankan ke kantin sekolah, dari masa sulit pandemi hingga kembali bangkit, Welly membuktikan bahwa usaha yang dijalankan dengan tekun dan penuh keyakinan memiliki peluang besar untuk tumbuh. Dan ketika modal, pendampingan, serta semangat pantang menyerah bertemu dalam satu perjalanan, sebuah usaha kecil pun dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang. (Muhammad Ikhza/BMD Banjarmasin)

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ