Panen Perdana Labu Ruma, Harapan Baru Petani Alhasaniyah Benzar

Panen Perdana Labu Ruma, Harapan Baru Petani Alhasaniyah Benzar

10/09/2026 | Humas BAZNAS RI

Pagi itu, lahan pertanian di Desa Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, terasa lebih ramai dari biasanya. Di antara guludan-guludan tanaman yang menghijau, para anggota Kelompok Tani Lumbung Pangan Alhasaniyah Benzar bergotong royong memanen hasil kerja mereka selama beberapa bulan terakhir.

Satu per satu Labu Ruma dipetik dari lahan. Bagi sebagian orang, jumlah 388 butir mungkin sekadar angka. Namun bagi para petani yang menanam dan merawatnya sejak awal, setiap buah membawa cerita tentang ketekunan, harapan, sekaligus peluang untuk memperbaiki kehidupan keluarga.

Panen perdana yang berlangsung pada Selasa (8/9/2026) itu menjadi penanda penting bagi kelompok tani tersebut. Dari lahan seluas 3.333,33 meter persegi yang terbagi dalam 28 guludan, mereka berhasil mengumpulkan 388 butir Labu Ruma.

Panen tidak dilakukan sekaligus. Para petani menerapkan sistem panen bertahap dengan jadwal sekitar satu minggu sekali. Dengan pola tersebut, hasil dari lahan diharapkan terus mengalir hingga November mendatang.

Jika satu butir Labu Ruma dihargai rata-rata Rp5.000, panen perdana ini menghasilkan potensi pendapatan kotor sekitar Rp1,94 juta. Angka itu tentu belum berhenti di sana. Masih ada panen-panen berikutnya yang diharapkan mampu menambah pendapatan kelompok sekaligus memberi manfaat lebih besar bagi para anggotanya.

Di balik panen tersebut, ada upaya panjang untuk menjadikan lahan pertanian bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi juga sumber penghidupan yang lebih menjanjikan.

Kelompok Tani Lumbung Pangan Alhasaniyah Benzar menjadi bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian melalui Program Lumbung Pangan BAZNAS. Melalui pendampingan dan pengelolaan lahan secara intensif, para petani didorong untuk meningkatkan produktivitas sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Bagi petani, keberhasilan panen perdana bukan hanya soal berapa banyak labu yang berhasil dikumpulkan atau berapa rupiah yang diperoleh. Lebih dari itu, panen menjadi bukti bahwa ketika lahan dikelola bersama, dirawat dengan tekun, dan didukung pendampingan yang tepat, pertanian dapat membuka ruang bagi tumbuhnya harapan baru.

Harapan itu juga diperkuat dengan rencana penyerapan hasil produksi oleh offtaker dan pasar lokal. Dengan adanya akses pasar, para petani tidak hanya didorong untuk menghasilkan komoditas, tetapi juga memiliki jalur pemasaran yang lebih jelas.

Dari satu guludan ke guludan lainnya, panen perdana itu pun berlangsung dalam semangat kebersamaan. Tangan-tangan petani bekerja bersama, memetik hasil yang telah mereka rawat.

Labu-labu yang terkumpul hari itu menjadi lebih dari sekadar hasil pertanian. Ia menjadi simbol dari ikhtiar untuk memperkuat pendapatan, menjaga keberlanjutan usaha tani, dan membangun kemandirian ekonomi dari desa.

Dan selama tanaman masih tumbuh serta panen masih berlanjut hingga November nanti, harapan itu pun masih memiliki ruang untuk terus bertambah.

Dapatkan Update Berita dan Informasi Penyaluran Zakat, Infak, dan Sedekah.

Follow us

Copyright © 2026 BAZNAS

Kebijakan Privasi   |   Syarat & Ketentuan   |   FAQ